EDITOR : I WAYAN SERIYOGA PARTA, I WAYAN NURIARTA

Kontributor Penulis: Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, I Wayan Nuriarta, I Kadek Puriartha, Gede Basuyoga Prabhawita, Asthararianty, Imam Santosa, Irfansyah, I Nyoman Larry J., Farid Abdullah, Atip Nurharini, Jajang Supriyadi, Lisa Febriyanti
Buku Reinvented Tradition#2; Merepresentasi Kembali Tradisi hadir sebagai upaya inisiasi bersama dengan kesadaran reflektif dan kritis, untuk membaca ulang tradisi dalam berbagai bentuk representasi seni dan wacana kebudayaan. Konsep tradisi dalam buku ini tidak dipahami sebagai sesuatu yang statis, beku, dan terlepas dari perubahan zaman, melainkan sebagai entitas yang terus bergerak, bernegosiasi, dan membentuk makna baru seiring dengan dinamika sosial, budaya, dan artistik. Melalui beragam tulisan yang terkumpul dari berbagai penulis, buku ini menawarkan perspektif lintas disiplin mengenai bagaimana tradisi diproduksi, direpresentasikan, ditafsirkan, serta dipertanyakan kembali dalam konteks wacana dan praksis seni serta pendidikan seni.
Berangkat dari kajian seni rupa Bali, buku ini menempatkan wayang Kamasan Bali sebagai salah satu fondasi penting dalam memahami estetika, sistem simbol, dan nilai-nilai visual yang tumbuh dalam kebudayaan Bali. Wayang Kamasan disebut sebagai Klasik, tidak hanya diposisikan sebagai warisan visual dengan trajektorinya yang panjang, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang memengaruhi berbagai praktik seni rupa Bali hingga hari ini. Dari titik ini, pembahasan bergerak pada gaya seni rupa Bali yang hadir dalam ranah seni rupa kontemporer. Karakteristik seni rupa Bali yang cenderung ‘rumit’ ngerawit menjadi ciri khas visual yang menyelinap dalam ketaksadaran para seniman Bali kontemporer. Representasi wayang juga dibahas dalam kartun opini. Pembahasan ini memperlihatkan bagaimana bahasa visual tradisional mengalami transformasi dan aktualisasi dalam konteks kritik sosial serta wacana publik masa kini.
Selain seni rupa dua dimensi, buku ini juga membahas film dokumenter dengan konsep undagi Bali. Undagi dipahami bukan sekadar sebagai tukang atau perancang, melainkan sebagai subjek budaya yang memiliki pengetahuan kosmologis, teknis, dan filosofis. Dokumenter dalam konteks ini menjadi medium representasi yang menjembatani tradisi lisan dan visual dengan praktik audiovisual kontemporer. Sejalan dengan itu, pembahasan mengenai periodisasi transformasi yang terjadi pada Barong Ket Bali, menegaskan pentingnya pembacaan sejarah yang kontekstual dalam relasi dengan kehidupan masyarakatnya.
Berikutnya pembahasan meluas pada budaya visual Nusantara, dimulai dari tema batik sebagai negosiasi identitas memperluas cakupan buku ini ke wilayah budaya material dan identitas kultural. Batik dibaca sebagai medan dialog antara tradisi, nasionalisme, globalisasi, dan ekspresi individual. Selanjutnya terdapat pembahasan tentang pendidikan seni menempatkan tradisi sebagai sumber pembelajaran kritis, bukan sekadar objek pelestarian, tetapi sebagai sarana untuk membangun kesadaran budaya, kreativitas, dan daya reflektif peserta didik.
Aspek kritis terhadap konsep post-tradisi juga menjadi pembahasan tersendiri yang menghubungkan fenomena tradisi dan tegangan dengan modernitas. Post-tradisi tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap tradisi, melainkan sebagai cara berpikir yang memungkinkan tradisi untuk terus hidup melalui reinterpretasi dan pembacaan ulang. Dalam konteks ini, “filsafat” seni menjadi ruang refleksi untuk mempertanyakan dasar-dasar estetika, nilai, dan makna seni dalam relasinya dengan tradisi dan modernitas. Tegangan antara tradisi dan modern menjadi topik yang tak pernah selesai, tarawan memandang tradisi tidak sebagai bentuk semata tetapi sebagai sebagai kesadaran waktu yang meruang (baca; kosmos); memberikan penegasan perihal praksis tradisi sesungguhnya terus bergerak dinamis dalam waktu yang meruang pada kesadaran kosmos bergerak ulang-alit dalam derap peradaban.
Akhirnya, buku ini diharapkan dapat menjadi kontribusi pemikiran bagi akademisi, seniman, pendidik, dan pembaca umum yang memiliki ketertarikan pada seni, budaya, dan tradisi. Buku ini tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang dialog, perdebatan, dan kemungkinan pemaknaan baru terhadap tradisi dalam dunia yang terus berubah.
Januari 2026