Saya mengenal seorang mahasiswa bernama I Wayan Suja. Ia tampil sebagai pribadi yang tenang dan cenderung mengamati, tidak banyak berbicara, tetapi menunjukkan cara berpikir yang matang dan reflektif. Karya-karyanya memperlihatkan pengaruh kuat dari seniman-seniman senior yang menempuh pendidikan di Yogyakarta saat itu, terutama dalam pengolahan bentuk, ekspresi, dan sikap artistik yang dominan penganut abstrak ekspresionisme.
Pada tahun 1997, saya kemudian memutuskan untuk mengambil program Master of Fine Art di University of South Florida. Ketika studi, krisis moneter melanda Indonesia. Situasi tersebut menuntut kekuatan batin agar dapat bertahan dan tetap fokus selama berada di Amerika Serikat. Salah seorang profesor pernah mengatakan bahwa, “Tidak banyak yang dapat Anda lakukan dari jauh terhadap peristiwa yang terjadi di tanah air. Silakan melukis bahasa hati.” Nasihat itu justru menjadi titik balik konsep dalam berkarya seni. Sejak saat itu, saya mulai melukis perasaan batin, menjadikan warna pangider bhuwana sebagai akar sekaligus wilayah eksplorasi utama. Bagi profesor pembimbing saya di sana, akar budaya dipandang sebagai sumber penting yang harus digali secara jujur dan mendalam.
Setelah kembali ke tanah air tahun 1999, pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh selama studi di luar negeri saya bagikan kepada mahasiswa di STSI Denpasar. Sementara itu, saya melihat kecenderungan di kalangan mahasiswa STSI Denpasar justru ingin melepaskan diri dari akar budaya lokal demi mencapai identitas yang dianggap lebih kontemporer. Pendekatan ini tidak selalu diterima dengan mudah dan kerap menimbulkan perdebatan, terutama karena karya-karya seni yang saya perkenalkan dianggap kurang bermuatan politis dalam merespons isu-isu saat itu. Dalam suasana politik yang sedang memanas dan krisis moneter yang melanda negeri, pendekatan visual yang cenderung minimalis, formalis, dan simbolis sering dipandang tidak sejalan dengan tuntutan situasi saat itu.
Sebagai pendidik sekaligus pelukis, saya memilih untuk tetap konsisten dan jujur dalam menyampaikan pengalaman batin sekaligus menegaskan pentingnya akar dan dasar pendidikan seni. Saya tetap berpegang pada kurikulum yang berlaku sambil membuka ruang dialog agar mahasiswa memahami bahwa seni dapat menyampaikan sikap melalui beragam cara, tidak selalu harus hadir secara lugas dan langsung. Di luar kewajiban akademik tersebut, tumbuh berbagai kelompok berkesenian mahasiswa yang bergerak secara mandiri dan aktif berpameran. Kelompok Kamasra (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) merupakan salah satunya, di samping kelompok-kelompok lain yang muncul sebagai ruang belajar bersama di luar kelas. Dalam dinamika inilah Suja terlibat secara aktif, memperkaya pengalaman artistiknya melalui praktik kolektif dan perjumpaan langsung dengan ruang publik seni.
Kelahiran kelompok Catur Muka, yang beranggotakan Suja, Wayan Suastama, Wayan Sudiana, dan Bonuz Sudiana, tidak dapat dilepaskan dari iklim akademik STSI Denpasar pada masa itu. Kelompok ini mencerminkan sikap generasi muda akademisi seni yang menyerap kuat pengaruh seni lukis abstrak-ekspresionis, khususnya bayang-bayang estetika Sanggar Dewata Indonesia, tetapi sekaligus berusaha menyisipkan pengalaman pribadi dan kesadaran kultural Bali ke dalam karya mereka. Dalam konteks tersebut, Suja tampil sebagai bagian dari kecenderungan bersama, tetapi dengan dorongan untuk memberi muatan sikap, kritik, dan refleksi yang lebih jelas, menjadikan karyanya tidak sekadar mengikuti arus gaya, tetapi berusaha berbicara tentang kegelisahan zaman dan posisi dirinya sebagai seniman.
Pada tahun akademik 2000/2001, Suja memasuki masa akhir studinya dan menjalani ujian sarjana seni. Sebagai dosen pembimbing tugas akhir, saya merasa semakin dekat dengan proses dan karya-karyanya. Pada fase ini, perkembangan sikap artistiknya tampak semakin jelas. Karya-karyanya mulai menunjukkan keberanian dalam menyampaikan pernyataan melalui perpaduan teks dan citra wajah, dengan nuansa sarkastik yang hadir sebagai respons reflektif terhadap realitas yang ia hadapi.
Salah satu karya penting pada masa tersebut adalah “Rekonstruksi”, yang dipresentasikan dalam ujian tugas akhir. Melalui karya ini, Suja mengungkapkan bagaimana konflik-konflik di sekitarnya tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sosial, tetapi juga memicu pergolakan batin yang mendalam. Getaran konflik itu kemudian ia olah dan terjemahkan ke dalam bahasa rupa sehingga karya hadir sebagai ruang refleksi, tempat pengalaman personal dan kesadaran saling bertaut secara halus, tetapi tegas.
Konteks itulah yang membuat perjalanan artistik Suja menarik untuk dicermati. Ia tumbuh dan berkarya di tengah tarik-menarik antara dorongan untuk mengikuti arus zaman dan kebutuhan untuk tetap berpijak pada pengalaman hidup serta lingkungannya. Pilihan estetik yang ia ambil tidak lahir dari keinginan untuk sekadar berbeda, tetapi dari kesadaran akan realitas yang ia hadapi. Melalui karya-karyanya, Suja memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang perenungan sekaligus sikap, tempat kegelisahan pribadi, pengalaman sosial, dan kesadaran budaya bertemu dan saling menguatkan.
Melalui konsistensi sikap tersebut, karya-karya Suja tidak hanya hadir sebagai ekspresi visual, tetapi juga sebagai penanda perjalanan batin dan intelektual seorang seniman. Ia mengolah medium dan bahasa rupa secara jujur, membiarkan pengalaman hidup, situasi sosial, dan ingatan kultural membentuk struktur karyanya. Dalam proses itu, Suja menunjukkan bahwa menjaga akar tidak berarti berhenti pada tradisi, dan merespons zaman tidak harus menanggalkan identitas. Justru di ruang pertemuan itulah karya-karyanya menemukan daya hidup dan relevansinya, baik bagi konteks lokal maupun dalam percakapan seni rupa yang lebih luas.
Sebagai penutup, buku ini diharapkan dapat dibaca sebagai jejak pemikiran dan sikap artistik Suja dalam menghadapi zamannya. Karyanya menunjukkan bahwa seni bukan sekadar persoalan bentuk atau gaya, melainkan pilihan sikap yang berangkat dari kesadaran akan akar budaya, pengalaman hidup, dan tanggung jawab sosial. Melalui proses kreatif dan keberanian menyuarakan kegelisahan batin, Suja menegaskan posisinya sebagai seniman yang tidak terjebak pada romantisme tradisi maupun euforia kebaruan, tetapi hadir secara sadar di antara keduanya. Di titik inilah karya-karyanya memperoleh makna, menjadi ruang dialog yang hidup antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan.
*I Wayan Karja adalah seniman lukis dan pendidik seni rupa di ISI Bali.
"Jika seni dianggap belum cukup mampu membawa perubahan setidaknya ia bisa membukakan ruang kesadaran tempat di mana perubahan itu bermula"
I Wayan Suja Tweet